Mengapa Yogyakarta Disebut Kota Pelajar?

Sekian lama Kota Yogyakarta yang kaya akan kultur budaya ini disebut-sebut sebagai ‘kota pelajar’. Banyak insan-insan yang berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta sengaja datang ke propinsi ini untuk mengenyam pendidikan di segala tingkatan, dari sekolah dasar, sekolah atas, maupun perguruan tinggi. Kualitas pendidikan di kota yang nyaman ini memang tergolong baik dan kompeten baik di tingkat nasional maupun internasional. Buktinya saja begitu banyak para pelajar di instansi-instansi pendidikan berlokasikan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjuarai berbagai olimpiade dan kompetisi baik tingkat nasional hingga internasional sekalipun. Sebuah prestasi yang memang patut dibanggakan mengingat gencarnya pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia menghendaki generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas dan memiliki daya saing.

Java-Yogyakarta-Jogja-Indonesia.jpg
 

Membicarakan tentang pelajar, meskipun berprestasi, tidak terpungkiri juga bahwa pelajar daerah berhati nyaman ini tidak luput dari tindakan-tindakan negatif yang dapat mencoreng nama Yogyakarta dari sebutan kota pelajar. Misalnya saja vandalisme yang kerap terjadi di sudut-sudut kota yang sesungguhnya indah dan bersih karena dijaga oleh masyarakat. Sudut-sudut kota ini namun pada akhirnya tak lagi indah, melainkan malah mengiritasi mata para insan yang memandangnya karena tindakan para pelajar yang semrawut. Berbagai macam tindakan vandalisme yang mereka lakukan, seperti mencoret-coret tembok warga atau rambu-rambu petunjuk lalu lintas, kerap kali menyulut emosi dari warga sekitar.

cimg0738.jpg
 

 

Tidak hanya sebatas vandalisme biasa, yang mereka lakukan berpotensi besar menyebabkan masalah yang jauh lebih pelik yakni perkelahian dan tawuran. Pasalnya, kerap kali mereka melakukan aksi mencoret-coret tembok warga di suatu daerah dengan menyertakan nama geng yang mereka ikuti. Vandalisme semacam ini pada umumnya dilakukan untuk menunjukkan wilayah kekuasaan geng-geng sekolah maupun geng-geng bebas yang saling berkompetisi satu sama lain. Misalnya saja seorang pelajar menuliskan nama geng yang dia ikuti di suatu wilayah, misalnya saja geng ABC, kemudian ada geng lain yang merasa bahwa wilayah itu adalah wilayahnya, pelajar dari geng lain tersebut kemudian akan mencoret nama geng ABC yang pertama kali menuliskan namanya di wilayah tersebut dan menuliskan gengnya sendiri di sana, misalnya DEF. Apabila geng ABC mengetahui bahwa nama gengnya dicoret oleh geng DEF dan amarah dari geng ABC tersulut, maka akan terjadi perkelahian untuk memperebutkan wilayah tersebut antara geng ABC dan geng DEF. Seperti drama klasik di setiap penjuru daerah, geng yang memenangkan perkelahian akan dianggap lebih berkuasa.

wall-vandal.gif
 

 

Tindakan balas dendam dan ‘kroyokan’ juga masih menjadi budaya geng-geng yang berseteru. Kebiasaan ‘klithih’ atau ‘pencegatan’ masih kerap ditemui di titik-titik tertentu Daerah Istimewe Yogyakarta. Pencegatan inilah yang selalu dicemaskan, bukan hanya bagi anggota geng, namun juga para pelajar biasa. Misalnya saja geng ABC kian berseteru dengan geng DEF. Misalnya saja geng ABC adalah geng yang terdiri dari pelajar SMA ABC. Geng DEF akan melakukan tidakan ‘pencegatan’ kepada setiap pelajar SMA ABC yang mereka temui dan melakukan introgasi kepada pelajar tersebut, apakah dia anggota dari geng atau bukan. Apabila diketahui dia anggota geng, maka dia akan menjadi bulan-bulanan geng DEF. Tidak jarang juga geng tersebut akan meminta seragam sekolah korban mereka secara paksa sehingga si korban pulang tanpa seragam sekolah. Seragam tersebut biasanya disimpan sebagai ‘bukti’ mereka mem-bully salah satu siswa dari sekolah musuh. Namun kini terasa sedikit lebih melegakan setelah pemerintah Kota Yogyakarta menyamakan tulisan pada badge lokasi seragam setiap pelajar sekolah negeri di Kota Yogyakarta, dari yang sebelumnya tertulis misalkan “SMA Negeri …” kini seluruhnya tertulis “Pelajar Kota Yogyakarta”.

tawuran-sma-smk4.jpg
 

 

Selain vandalisme, seperti pada postingan sebelumnya “ABG Undercover: Smoke, Sex, Sozzled”, telah banyak disinggung juga bahwa banyak kalangan pelajar yang terjerumus ke hal-hal sesat yang sangat beresiko terhadap kehidupan mereka sendiri. Beberapa pelajar melakukan tindakan-tindakan yang menyalahi aturan baik sekolah maupun negara diluar kegiatan belajar-mengajar yang mereka ikuti secara rutin. Kualitas pelajar yang seperti ini sungguh sangat dipertanyakan. Mereka yang sebenarnya pintar dan berpotensi menjadi tersia-siakan. Rokok kerap kali men-trigger gangguan kesehatan tubuh mereka. Alkohol dapat berdampak negatif baik bagi kesehatan tubuh mereka ataupun kinerja otak mereka. Hubungan seks di bawah batasan umur yang sesuai juga dapat berdampak buruk pada organ reproduksi. Belum lagi narkoba yang dapat seketika menghentikan pertumbuhan otak para pelajar. Tak jarang penyebab para pelajar mengkonsumsi barang-barang haram ini berasal dari pengaruh pergaulan dengan geng-geng yang mereka ikuti. Kerap ditemukan adanya ‘bandar’ yang beroperasi di dalam geng-geng bebas maupun sekolah. Hal ini tidak hanya menjadi masalah di Kota Yogyakarta, namun telah menjadi masalah umum di kota-kota terkemuka seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Hal ini sangat memprihatinkan mengingat sosok pelajar yang seharusnya lebih mencondongkan diri untuk menuntut pendidikan namun malah mengikuti organisasi-organisasi negatif dan ikut serta dalam perusakan fasilitas umum sekaligus perusakan diri mereka sendiri. Maka masih pantaskah Kota Yogyakarta disebut sebagai ‘kota pelajar’ dengan keadaan para pelajar yang terancam bahaya ini?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s